Arti
Sebuah Keluarga
(Part
2)
Bila
sebelumnya adalah caraku mengembalikan kepercayaan orangtuaku. Sekarang aku
ingin membahas tentang ungkapan kasih sayang di dalam keluarga. Aku termasuk
anak yang ‘sok’ kuat. Aku tidak mau orangtuaku ikut tahu bahwa aku sedang
sedih, ketika aku menangispun aku tidak ingin orangtuaku melihat mataku basah.
Aku orang yang romantis sebenarnya, iya sebenarnya. Tapi aku lebih suka
menyayangi mereka lewat caraku, dari balik layar. Tidak seperti anak perempuan
yang lainnya, aku lebih dekat dengan ibuku. Aku lebih mudah mengatakan sayang
kepada ibuku lewat hal-hal yang disukainya, coklat. Tiap ibuku berulangtahun, I
buy little things for her. Mulai dari silver queen, hingga es krim rasa coklat.
Yah aku harap ibuku menilai dari usahaku bukan dari harga pemberianku wkwkwk,
maklum kantong pelajar.
Aku
sudah dua kali gagal mengungkapkan sayangku kepada kelurgaku. Yang pertama
kepada mbah kung (mbah kakung) atau sebutanku untuk ayah dari ibuku. Mbah kung
sangat sayang padaku, terbukti mulai dari foto-foto masa kecilku bersama mbah
kung, hingga ketika aku sudah mulai besar. Ketika mbah kung terang-terangan membelaku
saat aku dimarahi ibuku. I really love him, tapi aku bingung bagaimana
mengungkapkannya. Hingga suatu hari mbah kung menderita sakit yang
berkepanjangan. Aku sudah lupa bagaiman tepatnya. Tapi yang jelas beberapa kali
aku sempat berbicara keras kepada mbah kung. Aku mengungkapkan sayangku lewat
nasehat-nasehat yang terselip di kata-kata kerasku. “Makannya ati-ati kalo
jalan.” adalah ungkapan tidak langsung dari ‘hati-hati, aku gamau mbah sakit
lagi gara-gara jatuh’, “Sudah dimasakkin mbah putri, ya dimakan” adalah
ungkapan tidak langsung dari ‘jangan lupa makan, biar cepet sembuh’. Yah kurang
lebih seperti itu, hal yang sama juga aku lakukan kepada ayahku. Aku adalah
anak yang tidak pernah akur dengan ayahku, karena aku memiliki cara
menyampaikan sayangku yang berbeda dan ayahku adalah orang yang tidak pernah
bisa berlaku romantis seperti ayah-ayah di luar sana. “Makannya jangan jajan yg
sembarangan, kaya anak kecil aja” aku selalu menasehati itu kepada ayahku,
karena ayahku adalah seperti anak kecil. Yang sakit batuk, mata bengkak hanya karena
jajan sembarangan. Bahkan mungkin lebih parah ayahku dibanding aku hehehe.
“Makannya jangan jajan yg sembarangan, kaya anak kecil aja” adalah caraku untuk
menyampaikan ‘hati-hati kalo milih makanan, aku gamau ngeliat ayah sakit. Masa
super heroku bisa sakit’.
Aku
yakin setiap orangtua juga memiliki cara yang berbeda untuk mengungkapkan
sayangnya kepada anaknya. Ada orangtua yang tidak pernah menghargai prestasi
anaknya, karena mereka tahu bahwa anaknya masih bisa melakukan apa yang lebih
dari itu dan orangtuanya tidak mau anaknya berbesar kepala terlebih dahulu. Dan
ada orangtua yang mungkin hanya terlihat bisa memarahi anaknya saja, mungkin
mereka seperti itu karena mereka kehilangan cara untuk mengungkapkan rasa sayangnya
seperti aku. Akhirnya mereka menyelipkan ungkapan sayang itu disetiap
kemarahannya. Tapi itulah nyatanya, setiap anggota keluarga memiliki cara yang
berbeda dalam mengungkapkan kasih sayangnya.
Ternyata tidak
sampai di situ. Aku tertegur dari sebuah kisah sederhana. Ibuku bercerita bahwa
salah satu dari orang-orang terdekatku telah kehilangan orangtuanya, kehilangan
ayahnya. Sewaktu aku mendengar penjelasan singkatnya aku hanya mampu membalas
cerita ibuku dengan “Oooh..”. Tapi entah kenapa aku terus memikirkannya, dan
rasanya seperti ingin menangis ketika tahu bahwa orang itu adalah orang
terdekatku. Memang dia tampak biasa-biasa saja, seperti orang-orang lainnya. Tapi
jauh dibalik semua itu, dia sangat hebat menyembunyikan rasa sedihnya, dia
sangat hebat bisa berjuang hingga detik ini, dan lebih hebat lagi dia bisa
tetap menjadi orang baik seperti sekarang. Aku lebih tertegur ketika aku sempat
memiliki pemikiran miring terhadapnya, yang aku tahu dia memiliki prinsip hidup
yang sedikit berbeda denganku. Aku tidak terlalu tahu, tapi mungkin dari
mengamatinya saja aku sudah bisa
menilai. Dan ternyata caraku menilai salah, semua orang memiliki masa lalu. Dan
masa lalu itu yang membuatnya seperti sekarang. Aku tidak bisa menyama-ratakan
cara berpikir oranglain dengan cara berpikirku. Masa lalu yang sudah membuat
mereka sampai ke tahap ini. Seketika pemikiran miringku soal prinsip hidupnya
berubah, aku mulai menilai dia sebagai pribadi yang hebat. Masa lalu yang
memberinya pelajaran tentang sebuah kerelaan dan ketulusan. Dia sudah belajar
banyak dan kesempatanku untuk mengenalnya juga memberiku banyak pelajaran.
“Kita
tidak bisa menilai kehidupan seseorang dengan sebelah mata
Karena
kita tidak pernah tahu apa yang sudah diambil Tuhan dari mereka.
Mungkin
keluargamu jauh dari kata sempurna
Namun keluarga
lah yang membuat hidupmu menjadi lebih sempurna. ”
2 komentar:
mantaap taan๐๐๐
Waah keren bgt inii๐
Posting Komentar