Minggu, 13 Desember 2015

Two Days Dream



Two Days Dream

          Cinta adalah pengorbanan. Entah sudah berapa juta kisah yang menceritakan soal perjuangan bodoh mengejar cinta. Tak bisa dipungkiri, cinta memang pengorbanan. Bukti sederhana, seorang ibu, malaikat yang sama sekali tak membutuhkan sayap rela mepertaruhkan nyawanya demi melahirkan malaikat kecil yang belum tentu sanggup mengulas senyum tipis di hari tua ibunya. Tapi itulah cinta. Aku tak pernah benar-benar merasa jatuh cinta, sebelum aku sendiri yang terperangah melihat langkah-langkah bodohku demi memperjuangkan kisah cinta yang sempurna.
          Two days dream, akan terdengar lebih indah bila tidak diakhiri dengan kata ‘dream’. Namaku Kinan, aku tak pernah merasa jatuh cinta bila aku sendiri tidak pernah sampai ke tahap ‘Perjuangan’. Ya, I think Love is a blind and love needs a sacrifice. Ulangan akhir semester, seperti ulangan-ulangan yang lalu. Yang aku harapkan dari UAS adalah segera mengakhirinya, mengambil jeda dan berlibur walau hanya sekejapan mata. Ya satu hariku bersamamu hanya akan menjadi sekejapan mata. Dan aku harap aku tidak akan pernah membuka mataku.
          “Semangat UASnya, No Remed, Cepet liburan, Liburan bareng Dia kan…”
          Iya kata-kata itu bukan hanya terlintas di pikiranku, namun benar-benar kutuliskan  pada kertas jadwal ujianku. Tujuannya apa? Aku hanya ingin mengikuti UAS dengan semangat yang sama seperti ketika aku akan menghabiskan liburanku bersamanya. Soal kalimatku tadi. Ah, sudahlah aku sendiri tidak pernah berharap kalimat terakhirku akan menjadi kenyataan.
          “Dek, bangun.. ada Putri di depan”, pagi ini hari Minggu sebelum dibangunkan Mama, aku rasa Putri tidak pernah sesemangat ini ketika weekend. Jangankan untuk berkunjung ke rumahku, hari Minggu akan menjadi hari nasional bagi Putrid an kasurnya. Setelah mencuci muka, aku menemui Putri di ruang tamu. Aneh, pagi-pagi begini, hari Minggu, muka yang berseri-seri, ada perlu apa Putri denganku. Masih bersama dengan mama kami bertiga mengobrol dengan pembicaraan ringan hingga Putri menyinggung soal liburan. Rupanya Putri ingin pamer kepadaku bahwa dia dan teman-temannya akan berlibur selama 5 hari di daerah Puncak, Jawa Barat.
          Putri adalah sahabat sejak kecilku yang kini hanya terpisah satu dinding denganku ketika berada di sekolah. Ya kita berbeda kelas, beruntung sekali Putri bisa satu kelas dengan Ray.  Sudah lama aku mengagumi Ray. Dan soal Ray, sedikit banyak Mama sudah mencium perasaanku yang sebenarnya. Mama tahu bila Putri adalah teman sekelas Ray, yang Mama tidak tahu adalah mimpiku bersama Ray hanya akan berakhir sebatas mimpi saja. Sepertinya Putri mengerti maksud dari ekspresiku, ketika mendengar bahwa dia dan teman-temannya akan berlibur bersama.
         “Mau ikut?Acaranya tanggal 1 januari. Kamu ada acara?”
Aah.. aku ingin ikut. Mataku sekejap beralih memandangi mama. Memandangi mama dengan tatapan dan raut muka memelas.
        “Kita liburan keluarga tanggal berapa ya dek?”
Ah, sial.. sejak jauh hari keluargaku memang sudah merencanakan liburan ke Pulau Dewata. Ah seandainya saja Ray akan berlibur denganku, jangankan Pulau Dewata, taman kota saja aku mau bila dengan Ray.
      “Hmm… Jumat sampai Minggu sih ma, sepertinya bertanggal sama dengan liburan Putri. Gabisa dipercepat ya ma?”
Pertanyaanku terdengar begitu aneh, mana mungkin tiket-tiket yang sudah dipesan dibatalkan begitu saja. hahaha bodoh. Mama tahu sekali aku ingin ikut Liburan ini. mama diam sebentar. Dua menit, lima menit hingga aku dan Putri sudah larut dalam perbincangan yang baru.
       “Dek.. liat deh.. kita liburan tanggal 19 Desember ini.”
Meloncat dari kursi menuju mama tidak akan terlihat biasa saja bila bukan karena cinta. Putri pun merasakan hal itu, perlahan aku melihat senyum geli Putri yang sengaja ditunjukkan kepadaku.  Yeay!! Daftar liburanku kali ini akan terasa lebih menyibukkan sekaligus menyenangkan apalagi ketika mama menyetujui rencanaku dengan Putri. Sempat terlintas di pikiranku, nanti aku hanya punya Putri, tidak mungkin selama lima hari aku hanya mengobrol dengan Putri. Putri juga mempunyai teman. Ah, aku tidak peduli, yang penting liburan kali ini aku pergi bersama Ray. Dan soal tulisan mimpiku pada lembar jadwal ujian kali ini akan benar-benar menjadi kenyataan. Aku akan berlibur dengan Ray. Tak peduli bila nanti kita pergi bersama 50 orang yang lainnya. Yang penting judulnya tetap saja “Liburan Kinan bersama Ray”. Hahaha rupanya cinta sudah membuatku terlihat konyol.
          Senin ini menjadi senin yang lebih cerah dibanding senin-senin lainnya. Semangatku untuk menyelesaikan 2 hari sisa UAS terasa berada di atas awan. Senin berganti ke Selasa. Pulang sekolah dengan tidak mempunyai tangggungan belajar hingga tahun depan menjadi suasana ternyaman bagiku. Dan tidur siang akan menjadi pilihan pertama untuk mengawali liburan kecilku.
          Bangun tidur aku segera menuju dapur untuk makan. Mama dengan muka berkeringat sedang berada di dapur memasakkan makan malam untuk keluarga kecilnya.
“Dek.. tadi Putri ke sini..”, perkataan mama serasa sengaja digantung.
“Katanya Putri tidak jadi mengajakmu liburan, hotelnya sudah dipesan sejumlah orang. Dan tidak mungkin kamu nyempil gitu aja. Putri sengaja ga ngomong langsung ke kamu, Dek. Putri minta maaf, dia gak enak sama kamu.”
“Oh yasudah deh ma gapapa, liburan bareng keluarga saja.”, mama menatapku dalam seolah tahu arti ‘gapapa’ yang baru saja disebut oleh putrinya.
          Mungkin Tuhan terlalu sayang padaku aku tahu, daerah Puncak adalah daerah yang cukup dingin, sangat dingin terlebih pada musim hujan. Dan seorang Kinan memiliki penyakit yang kapan saja bisa kambuh bila berada bersama ‘dingin’. Kenangan berliburku bersama Ray tidak akan menjadi kenangan indah. Bagaimana menjadi kenangan indah menjadi nyata saja tidak. Yah, mungkin ini lebih baik daripada seorang Kinan yang harus berakhir menjadi kenangan alias mati hanya karena kedinginan.
          Two days dream. Mimpi yang sangat indah. Dan aku rasa liburanku sudah dimulai sejak Minggu yang lalu. Sejak aku diterbangkan ke langit ketujuh ketika mendengar bahwa aku akan berlibur bersama Ray. Sangat indah, sangat indah sekali bahkan. Makasih ya Ray buat udah jadi alasanku semangat berangkat sekolah, semangat UAS dan semangat liburan, walau harus tidak bersamamu. Save holiday Ray!!

0 komentar:

Posting Komentar