Arti
Sebuah Keluarga
“Jangan biarkan mereka ikut merasakan kerasnya usahamu, jangan biarkan mereka kasihan terhadapmu.
Just do it. Make Them belive that you can.”
Keluarga
seharusnya menjadi tempat kedua, tempat yang nyaman untukku kembali. Tetapi
seringkali peran keluarga hilang dari hidupku. Dan perlu aku tegaskan, hidup
tak selalu seindah kisah ftv. Menjadi anak tunggal, ditinggali banyak kekayaan
ataupun menjadi anak tunggal, merasakan 100% kasih sayang dari orangtuanya. Aku
tidak merasakan keduanya. Aku tidak mempunyai saudara, orangtuaku sibuk
bekerja, dan materi juga biasa-biasa saja, malah aku sendiri yang harus mandiri
dengan urusan-urusanku.
Suatu
hari aku benar-benar merasakan saat di mana aku harus berjuang sendiri. Umur 13
tahun, benar-benar menjadi umur yang labil bagiku. Merasakan perubahan di mana ‘sedih’
bukan lagi ketika aku bingung ingin memilih crayon warna apa. Namun sedih
remaja yang sebenarnya, tentang jatuh bangun cinta, urusan sekolah, membagi
waktu, sampai mencari Tuhan. Aku merasa aku berjuang sendiri. Aku akan
menjelaskan bagaimana orangtuaku menolak mimpi-mimpiku.
Pertama,
sejak tahun 2012, sejak pertama kali aku merasakan jatuh cinta dan terluka. Aku
mulai menyukai dunia menulis. Awalnya aku hanya menyusun kata-per kata hingga
menjadi bait-bait yang bisa mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya. Hingga
sahabat-sahabatku menyadarkan bahwa itu adalah 1 dari sekian talentaku yang
belum terasah. “Aku pingin jadi penulis.”, kataku singkat kepada orangtuaku.
Dengan muka penuh semangat ternyata kata-kataku dibalas dengan jawaban yang
tidak mengenakkan. “Kamu itu belajar, jangan nulis yang gak penting-penting.”.
Memang pada waktu itu aku sedang persiapan menghadapi Olimpiade namun aku
merasa aku juga perlu hiburan, duniaku tidak melulu berkutat dengan buku. Toh
sukses juga tidak harus karena matematika dan ipa.
Kedua
dari kelas 6 SD, aku suka mendengarkan suara orang-orang dari radio. Mulai dari
menyukai jenis acara hingga menyukai pembawaan penyiarnya yang agak
kebanci-bancian hahaha. But it sounds funny. Aku bilang, “Aku mau jadi
penyiar.”. Ternyata keinginanku masih belum seirama dengan keinginan kedua
orangtuaku. “Penyiar gajinya lo cuman berapa.”, kata mereka dengan bahasa
suroboyo-an. Aku merasa pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar.
Dan bekerja tidak harus menuntut kekayaan materi namun juga kepuasan batin. Aku
juga menyukai dunia MC, kalau MC
orangtuaku setuju-setuju saja. Tapi aku lebih tertarik untuk menjadi penyiar.
Alasannya sangat sederhana, karena penyiar hanya didengar suaranya saja. Berbeda
dengan MC yang juga menuntut fisik yang sempurna hahaha.
Terakhir,
aku memang tertarik dengan dunia magis. Tetapi itu dulu, dulu sekali. Yah
seorang remaja memang memiliki keinginan tahu yang besar, terutama aku yang
memiliki ketertarikan sendiri di dunia mistis. Aku jadi ingin mengetahui
hal-hal itu lebih secara ilmu. “I want to be a physicologist.”, dan ternyata
orangtuaku masih menyamaratakan psikolog dengan ‘dukun’. Hmmm memang masih ada
hubungannya karena memelajari kepribadian sesorang, hal-hal di bawah alam
sadar, dan mungkin sedikit menyampuri hal-hal yang magis. Tapi sebenarnya
berbeda jauh. Aku ingin menjadi psikolog, karena aku adalah orang yang paling
senang ketika tahu kalau sahabatku sedang sedih. Bagaimana bisa? Tenang saja
aku bukan orang yang bisa tertawa di
atas penderitaan kalian, tapi aku hanya senang. Aku senang mendengarkan
curhatan sahabat-sahabatku, aku senang memahami masalah mereka, dan aku senang
menemani mereka saat mereka bergumul dengan masalahnya. Aku senang duduk cantik
sambil mendengarkan keluh kesah mereka, rasanya itu sebuah kepercayaan lebih
ketika mereka mau membagi kisahnya padaku. Dan dari situlah muncul
ketertarikkanku untuk menjadi psikolog. Ya, psikolog, bukan dukun. Mungkin
suatu saat aku juga tidak cukup untuk menjadi psikolog, aku ingin menjadi
motivator. Karena belajar tidak melulu soal ujian dan remidi. Namun belajar
berproses seumur hidup, termasuk belajar dari pengalaman kalian selama ini.
Yang
muncul di dalam pikiranku adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan mereka
kepadaku. Bagaimana mengatakan bahwa ‘aku mampu’, bukan mengatakan dengan
kata-kata namun dengan sebuah aksi. Untungnya, Tuhan mengirimkanku
malaikat-malaikat yang memang tak perlu sayap. Malaikat-malaikat yang selalu
ada untuk memberiku semangat dari belakang. Mulai dari semangat lewat teguran,
lewat pelukkan, sampai-sampai lewat teriakkan selayaknya tim pemandu sorak yang
siap menyorakki ku ketika aku sendiri bergumul dengan masalahku. Dan aku sangat
bersyukur pada umurku yang masih dikatakan ‘remaja labil’ aku sudah mempunyai
quality time sendiri dengan Tuhan. Aku mulai tahu bahwa Tuhan selalu berada di
situ menungguku kembali dengan kasih yang sama dari dulu hingga masa kini. Aku
mulai berjuang mengembalikan kepeercayaan orangtuaku. Ya, tidak semudah itu
memang. Sometimes things don’t go the way we want. Aku jatuh, tapi aku harus
bangun lagi. Aku tidak mau orangtuaku melihat aku terisak-isak karena aku
jatuh, aku tidak mau mereka melihat usahaku. Aku hanya ingin mereka merasakan
kebahagiaanku nanti ketika aku sudah berhasil dengan usahaku. Aku tidak mau
terlihat lemah di mata orangtuaku. Aku bisa. Ternyata benar, usahaku membuahkan
hasil. Mungkin prestasinya masih level ‘kacangan’, tapi benar orangtuaku sudah
mulai percaya padaku.
Sekarang
mereka mendukung apapun yang menjadi ketertarikkanku. Tentunya, selama aku
masih pandai mengatur waktu. Hubunganku juga sudah mulai pulih, sedikit demi
sedikit kami sudah mulai sama-sama terbuka. Ya sedikit, karena selebihnya aku
memberi kesempatan untuk waktu yang mengubahnya. Mereka mulai ikut ingin tahu
ketika aku berkata kalau suatu hari nanti aku ingin menerbitkan sebuah buku,
mereka ikut mendukung ketika aku mulai mencoba dunia public speaking, dan
memberi lampu hijau ketika aku ingin
memilih psikolog menjadi jurusanku nanti.
0 komentar:
Posting Komentar