Sabtu, 24 Oktober 2015

Arti Sebuah Keluarga (1)



Arti Sebuah Keluarga

“Jangan biarkan mereka ikut merasakan kerasnya usahamu, jangan biarkan mereka kasihan terhadapmu. 
Just do it. Make Them belive that you can.”


          Keluarga seharusnya menjadi tempat kedua, tempat yang nyaman untukku kembali. Tetapi seringkali peran keluarga hilang dari hidupku. Dan perlu aku tegaskan, hidup tak selalu seindah kisah ftv. Menjadi anak tunggal, ditinggali banyak kekayaan ataupun menjadi anak tunggal, merasakan 100% kasih sayang dari orangtuanya. Aku tidak merasakan keduanya. Aku tidak mempunyai saudara, orangtuaku sibuk bekerja, dan materi juga biasa-biasa saja, malah aku sendiri yang harus mandiri dengan urusan-urusanku.
          Suatu hari aku benar-benar merasakan saat di mana aku harus berjuang sendiri. Umur 13 tahun, benar-benar menjadi umur yang labil bagiku. Merasakan perubahan di mana ‘sedih’ bukan lagi ketika aku bingung ingin memilih crayon warna apa. Namun sedih remaja yang sebenarnya, tentang jatuh bangun cinta, urusan sekolah, membagi waktu, sampai mencari Tuhan. Aku merasa aku berjuang sendiri. Aku akan menjelaskan bagaimana orangtuaku menolak mimpi-mimpiku.
          Pertama, sejak tahun 2012, sejak pertama kali aku merasakan jatuh cinta dan terluka. Aku mulai menyukai dunia menulis. Awalnya aku hanya menyusun kata-per kata hingga menjadi bait-bait yang bisa mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya. Hingga sahabat-sahabatku menyadarkan bahwa itu adalah 1 dari sekian talentaku yang belum terasah. “Aku pingin jadi penulis.”, kataku singkat kepada orangtuaku. Dengan muka penuh semangat ternyata kata-kataku dibalas dengan jawaban yang tidak mengenakkan. “Kamu itu belajar, jangan nulis yang gak penting-penting.”. Memang pada waktu itu aku sedang persiapan menghadapi Olimpiade namun aku merasa aku juga perlu hiburan, duniaku tidak melulu berkutat dengan buku. Toh sukses juga tidak harus karena matematika dan ipa.
          Kedua dari kelas 6 SD, aku suka mendengarkan suara orang-orang dari radio. Mulai dari menyukai jenis acara hingga menyukai pembawaan penyiarnya yang agak kebanci-bancian hahaha. But it sounds funny. Aku bilang, “Aku mau jadi penyiar.”. Ternyata keinginanku masih belum seirama dengan keinginan kedua orangtuaku. “Penyiar gajinya lo cuman berapa.”, kata mereka dengan bahasa suroboyo-an. Aku merasa pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Dan bekerja tidak harus menuntut kekayaan materi namun juga kepuasan batin. Aku juga  menyukai dunia MC, kalau MC orangtuaku setuju-setuju saja. Tapi aku lebih tertarik untuk menjadi penyiar. Alasannya sangat sederhana, karena penyiar hanya didengar suaranya saja. Berbeda dengan MC yang juga menuntut fisik yang sempurna hahaha.
          Terakhir, aku memang tertarik dengan dunia magis. Tetapi itu dulu, dulu sekali. Yah seorang remaja memang memiliki keinginan tahu yang besar, terutama aku yang memiliki ketertarikan sendiri di dunia mistis. Aku jadi ingin mengetahui hal-hal itu lebih secara ilmu. “I want to be a physicologist.”, dan ternyata orangtuaku masih menyamaratakan psikolog dengan ‘dukun’. Hmmm memang masih ada hubungannya karena memelajari kepribadian sesorang, hal-hal di bawah alam sadar, dan mungkin sedikit menyampuri hal-hal yang magis. Tapi sebenarnya berbeda jauh. Aku ingin menjadi psikolog, karena aku adalah orang yang paling senang ketika tahu kalau sahabatku sedang sedih. Bagaimana bisa? Tenang saja aku  bukan orang yang bisa tertawa di atas penderitaan kalian, tapi aku hanya senang. Aku senang mendengarkan curhatan sahabat-sahabatku, aku senang memahami masalah mereka, dan aku senang menemani mereka saat mereka bergumul dengan masalahnya. Aku senang duduk cantik sambil mendengarkan keluh kesah mereka, rasanya itu sebuah kepercayaan lebih ketika mereka mau membagi kisahnya padaku. Dan dari situlah muncul ketertarikkanku untuk menjadi psikolog. Ya, psikolog, bukan dukun. Mungkin suatu saat aku juga tidak cukup untuk menjadi psikolog, aku ingin menjadi motivator. Karena belajar tidak melulu soal ujian dan remidi. Namun belajar berproses seumur hidup, termasuk belajar dari pengalaman kalian selama ini.
          Yang muncul di dalam pikiranku adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan mereka kepadaku. Bagaimana mengatakan bahwa ‘aku mampu’, bukan mengatakan dengan kata-kata namun dengan sebuah aksi. Untungnya, Tuhan mengirimkanku malaikat-malaikat yang memang tak perlu sayap. Malaikat-malaikat yang selalu ada untuk memberiku semangat dari belakang. Mulai dari semangat lewat teguran, lewat pelukkan, sampai-sampai lewat teriakkan selayaknya tim pemandu sorak yang siap menyorakki ku ketika aku sendiri bergumul dengan masalahku. Dan aku sangat bersyukur pada umurku yang masih dikatakan ‘remaja labil’ aku sudah mempunyai quality time sendiri dengan Tuhan. Aku mulai tahu bahwa Tuhan selalu berada di situ menungguku kembali dengan kasih yang sama dari dulu hingga masa kini. Aku mulai berjuang mengembalikan kepeercayaan orangtuaku. Ya, tidak semudah itu memang. Sometimes things don’t go the way we want. Aku jatuh, tapi aku harus bangun lagi. Aku tidak mau orangtuaku melihat aku terisak-isak karena aku jatuh, aku tidak mau mereka melihat usahaku. Aku hanya ingin mereka merasakan kebahagiaanku nanti ketika aku sudah berhasil dengan usahaku. Aku tidak mau terlihat lemah di mata orangtuaku. Aku bisa. Ternyata benar, usahaku membuahkan hasil. Mungkin prestasinya masih level ‘kacangan’, tapi benar orangtuaku sudah mulai percaya padaku.
          Sekarang mereka mendukung apapun yang menjadi ketertarikkanku. Tentunya, selama aku masih pandai mengatur waktu. Hubunganku juga sudah mulai pulih, sedikit demi sedikit kami sudah mulai sama-sama terbuka. Ya sedikit, karena selebihnya aku memberi kesempatan untuk waktu yang mengubahnya. Mereka mulai ikut ingin tahu ketika aku berkata kalau suatu hari nanti aku ingin menerbitkan sebuah buku, mereka ikut mendukung ketika aku mulai mencoba dunia public speaking, dan memberi lampu hijau  ketika aku ingin memilih psikolog menjadi jurusanku nanti.

0 komentar:

Posting Komentar