Two
Days Dream
Cinta
adalah pengorbanan. Entah sudah berapa juta kisah yang menceritakan soal
perjuangan bodoh mengejar cinta. Tak bisa dipungkiri, cinta memang pengorbanan.
Bukti sederhana, seorang ibu, malaikat yang sama sekali tak membutuhkan sayap rela
mepertaruhkan nyawanya demi melahirkan malaikat kecil yang belum tentu sanggup
mengulas senyum tipis di hari tua ibunya. Tapi itulah cinta. Aku tak pernah
benar-benar merasa jatuh cinta, sebelum aku sendiri yang terperangah melihat
langkah-langkah bodohku demi memperjuangkan kisah cinta yang sempurna.
Two
days dream, akan terdengar lebih indah bila tidak diakhiri dengan kata ‘dream’.
Namaku Kinan, aku tak pernah merasa jatuh cinta bila aku sendiri tidak pernah
sampai ke tahap ‘Perjuangan’. Ya, I think
Love is a blind and love needs a sacrifice. Ulangan akhir semester, seperti
ulangan-ulangan yang lalu. Yang aku harapkan dari UAS adalah segera
mengakhirinya, mengambil jeda dan berlibur walau hanya sekejapan mata. Ya satu hariku
bersamamu hanya akan menjadi sekejapan mata. Dan aku harap aku tidak akan
pernah membuka mataku.
“Semangat
UASnya, No Remed, Cepet liburan, Liburan bareng Dia kan…”
Iya
kata-kata itu bukan hanya terlintas di pikiranku, namun benar-benar
kutuliskan pada kertas jadwal ujianku. Tujuannya
apa? Aku hanya ingin mengikuti UAS dengan semangat yang sama seperti ketika aku
akan menghabiskan liburanku bersamanya. Soal kalimatku tadi. Ah, sudahlah aku
sendiri tidak pernah berharap kalimat terakhirku akan menjadi kenyataan.
“Dek,
bangun.. ada Putri di depan”, pagi ini hari Minggu sebelum dibangunkan Mama,
aku rasa Putri tidak pernah sesemangat ini ketika weekend. Jangankan untuk berkunjung ke rumahku, hari Minggu akan
menjadi hari nasional bagi Putrid an kasurnya. Setelah mencuci muka, aku
menemui Putri di ruang tamu. Aneh, pagi-pagi begini, hari Minggu, muka yang
berseri-seri, ada perlu apa Putri denganku. Masih bersama dengan mama kami
bertiga mengobrol dengan pembicaraan ringan hingga Putri menyinggung soal
liburan. Rupanya Putri ingin pamer kepadaku bahwa dia dan teman-temannya akan
berlibur selama 5 hari di daerah Puncak, Jawa Barat.
Putri
adalah sahabat sejak kecilku yang kini hanya terpisah satu dinding denganku
ketika berada di sekolah. Ya kita berbeda kelas, beruntung sekali Putri bisa
satu kelas dengan Ray. Sudah lama aku
mengagumi Ray. Dan soal Ray, sedikit banyak Mama sudah mencium perasaanku yang
sebenarnya. Mama tahu bila Putri adalah teman sekelas Ray, yang Mama tidak tahu
adalah mimpiku bersama Ray hanya akan berakhir sebatas mimpi saja. Sepertinya
Putri mengerti maksud dari ekspresiku, ketika mendengar bahwa dia dan
teman-temannya akan berlibur bersama.
“Mau ikut?Acaranya tanggal 1
januari. Kamu ada acara?”
Aah.. aku ingin ikut. Mataku
sekejap beralih memandangi mama. Memandangi mama dengan tatapan dan raut muka
memelas.
“Kita liburan keluarga tanggal
berapa ya dek?”
Ah, sial.. sejak jauh hari
keluargaku memang sudah merencanakan liburan ke Pulau Dewata. Ah seandainya
saja Ray akan berlibur denganku, jangankan Pulau Dewata, taman kota saja aku
mau bila dengan Ray.
“Hmm… Jumat sampai Minggu sih ma,
sepertinya bertanggal sama dengan liburan Putri. Gabisa dipercepat ya ma?”
Pertanyaanku terdengar begitu
aneh, mana mungkin tiket-tiket yang sudah dipesan dibatalkan begitu saja.
hahaha bodoh. Mama tahu sekali aku ingin ikut Liburan ini. mama diam sebentar.
Dua menit, lima menit hingga aku dan Putri sudah larut dalam perbincangan yang
baru.
“Dek.. liat deh.. kita liburan
tanggal 19 Desember ini.”
Meloncat dari kursi menuju mama
tidak akan terlihat biasa saja bila bukan karena cinta. Putri pun merasakan hal
itu, perlahan aku melihat senyum geli Putri yang sengaja ditunjukkan kepadaku. Yeay!! Daftar liburanku kali ini akan terasa
lebih menyibukkan sekaligus menyenangkan apalagi ketika mama menyetujui
rencanaku dengan Putri. Sempat terlintas di pikiranku, nanti aku hanya punya
Putri, tidak mungkin selama lima hari aku hanya mengobrol dengan Putri. Putri
juga mempunyai teman. Ah, aku tidak peduli, yang penting liburan kali ini aku pergi
bersama Ray. Dan soal tulisan mimpiku pada lembar jadwal ujian kali ini akan
benar-benar menjadi kenyataan. Aku akan berlibur dengan Ray. Tak peduli bila
nanti kita pergi bersama 50 orang yang lainnya. Yang penting judulnya tetap
saja “Liburan Kinan bersama Ray”. Hahaha rupanya cinta sudah membuatku terlihat
konyol.
Senin
ini menjadi senin yang lebih cerah dibanding senin-senin lainnya. Semangatku
untuk menyelesaikan 2 hari sisa UAS terasa berada di atas awan. Senin berganti ke
Selasa. Pulang sekolah dengan tidak mempunyai tangggungan belajar hingga tahun
depan menjadi suasana ternyaman bagiku. Dan tidur siang akan menjadi pilihan
pertama untuk mengawali liburan kecilku.
Bangun
tidur aku segera menuju dapur untuk makan. Mama dengan muka berkeringat sedang
berada di dapur memasakkan makan malam untuk keluarga kecilnya.
“Dek.. tadi Putri ke sini..”,
perkataan mama serasa sengaja digantung.
“Katanya Putri tidak jadi
mengajakmu liburan, hotelnya sudah dipesan sejumlah orang. Dan tidak mungkin
kamu nyempil gitu aja. Putri sengaja ga ngomong langsung ke kamu, Dek. Putri
minta maaf, dia gak enak sama kamu.”
“Oh yasudah deh ma gapapa,
liburan bareng keluarga saja.”, mama menatapku dalam seolah tahu arti ‘gapapa’
yang baru saja disebut oleh putrinya.
Mungkin
Tuhan terlalu sayang padaku aku tahu, daerah Puncak adalah daerah yang cukup
dingin, sangat dingin terlebih pada musim hujan. Dan seorang Kinan memiliki
penyakit yang kapan saja bisa kambuh bila berada bersama ‘dingin’. Kenangan
berliburku bersama Ray tidak akan menjadi kenangan indah. Bagaimana menjadi
kenangan indah menjadi nyata saja tidak. Yah, mungkin ini lebih baik daripada
seorang Kinan yang harus berakhir menjadi kenangan alias mati hanya karena
kedinginan.
Two
days dream. Mimpi yang sangat indah. Dan aku rasa liburanku sudah dimulai sejak
Minggu yang lalu. Sejak aku diterbangkan ke langit ketujuh ketika mendengar
bahwa aku akan berlibur bersama Ray. Sangat indah, sangat indah sekali bahkan.
Makasih ya Ray buat udah jadi alasanku semangat berangkat sekolah, semangat UAS
dan semangat liburan, walau harus tidak bersamamu. Save holiday Ray!!