Sabtu, 24 Oktober 2015

Arti Sebuah Keluarga (2)



Arti Sebuah Keluarga
(Part 2)

     Bila sebelumnya adalah caraku mengembalikan kepercayaan orangtuaku. Sekarang aku ingin membahas tentang ungkapan kasih sayang di dalam keluarga. Aku termasuk anak yang ‘sok’ kuat. Aku tidak mau orangtuaku ikut tahu bahwa aku sedang sedih, ketika aku menangispun aku tidak ingin orangtuaku melihat mataku basah. Aku orang yang romantis sebenarnya, iya sebenarnya. Tapi aku lebih suka menyayangi mereka lewat caraku, dari balik layar. Tidak seperti anak perempuan yang lainnya, aku lebih dekat dengan ibuku. Aku lebih mudah mengatakan sayang kepada ibuku lewat hal-hal yang disukainya, coklat. Tiap ibuku berulangtahun, I buy little things for her. Mulai dari silver queen, hingga es krim rasa coklat. Yah aku harap ibuku menilai dari usahaku bukan dari harga pemberianku wkwkwk, maklum kantong pelajar.
        Aku sudah dua kali gagal mengungkapkan sayangku kepada kelurgaku. Yang pertama kepada mbah kung (mbah kakung) atau sebutanku untuk ayah dari ibuku. Mbah kung sangat sayang padaku, terbukti mulai dari foto-foto masa kecilku bersama mbah kung, hingga ketika aku sudah mulai besar. Ketika mbah kung terang-terangan membelaku saat aku dimarahi ibuku. I really love him, tapi aku bingung bagaimana mengungkapkannya. Hingga suatu hari mbah kung menderita sakit yang berkepanjangan. Aku sudah lupa bagaiman tepatnya. Tapi yang jelas beberapa kali aku sempat berbicara keras kepada mbah kung. Aku mengungkapkan sayangku lewat nasehat-nasehat yang terselip di kata-kata kerasku. “Makannya ati-ati kalo jalan.” adalah ungkapan tidak langsung dari ‘hati-hati, aku gamau mbah sakit lagi gara-gara jatuh’, “Sudah dimasakkin mbah putri, ya dimakan” adalah ungkapan tidak langsung dari ‘jangan lupa makan, biar cepet sembuh’. Yah kurang lebih seperti itu, hal yang sama juga aku lakukan kepada ayahku. Aku adalah anak yang tidak pernah akur dengan ayahku, karena aku memiliki cara menyampaikan sayangku yang berbeda dan ayahku adalah orang yang tidak pernah bisa berlaku romantis seperti ayah-ayah di luar sana. “Makannya jangan jajan yg sembarangan, kaya anak kecil aja” aku selalu menasehati itu kepada ayahku, karena ayahku adalah seperti anak kecil. Yang sakit batuk, mata bengkak hanya karena jajan sembarangan. Bahkan mungkin lebih parah ayahku dibanding aku hehehe. “Makannya jangan jajan yg sembarangan, kaya anak kecil aja” adalah caraku untuk menyampaikan ‘hati-hati kalo milih makanan, aku gamau ngeliat ayah sakit. Masa super heroku bisa sakit’.
          Aku yakin setiap orangtua juga memiliki cara yang berbeda untuk mengungkapkan sayangnya kepada anaknya. Ada orangtua yang tidak pernah menghargai prestasi anaknya, karena mereka tahu bahwa anaknya masih bisa melakukan apa yang lebih dari itu dan orangtuanya tidak mau anaknya berbesar kepala terlebih dahulu. Dan ada orangtua yang mungkin hanya terlihat bisa memarahi anaknya saja, mungkin mereka seperti itu karena mereka kehilangan cara untuk mengungkapkan rasa sayangnya seperti aku. Akhirnya mereka menyelipkan ungkapan sayang itu disetiap kemarahannya. Tapi itulah nyatanya, setiap anggota keluarga memiliki cara yang berbeda dalam mengungkapkan kasih sayangnya.
          Ternyata tidak sampai di situ. Aku tertegur dari sebuah kisah sederhana. Ibuku bercerita bahwa salah satu dari orang-orang terdekatku telah kehilangan orangtuanya, kehilangan ayahnya. Sewaktu aku mendengar penjelasan singkatnya aku hanya mampu membalas cerita ibuku dengan “Oooh..”. Tapi entah kenapa aku terus memikirkannya, dan rasanya seperti ingin menangis ketika tahu bahwa orang itu adalah orang terdekatku. Memang dia tampak biasa-biasa saja, seperti orang-orang lainnya. Tapi jauh dibalik semua itu, dia sangat hebat menyembunyikan rasa sedihnya, dia sangat hebat bisa berjuang hingga detik ini, dan lebih hebat lagi dia bisa tetap menjadi orang baik seperti sekarang. Aku lebih tertegur ketika aku sempat memiliki pemikiran miring terhadapnya, yang aku tahu dia memiliki prinsip hidup yang sedikit berbeda denganku. Aku tidak terlalu tahu, tapi mungkin dari mengamatinya saja aku sudah  bisa menilai. Dan ternyata caraku menilai salah, semua orang memiliki masa lalu. Dan masa lalu itu yang membuatnya seperti sekarang. Aku tidak bisa menyama-ratakan cara berpikir oranglain dengan cara berpikirku. Masa lalu yang sudah membuat mereka sampai ke tahap ini. Seketika pemikiran miringku soal prinsip hidupnya berubah, aku mulai menilai dia sebagai pribadi yang hebat. Masa lalu yang memberinya pelajaran tentang sebuah kerelaan dan ketulusan. Dia sudah belajar banyak dan kesempatanku untuk mengenalnya juga memberiku banyak pelajaran.




“Kita tidak bisa menilai kehidupan seseorang dengan sebelah mata

Karena kita tidak pernah tahu apa yang sudah diambil Tuhan dari mereka.

Mungkin keluargamu jauh dari kata sempurna

Namun keluarga lah yang membuat hidupmu menjadi lebih sempurna. ”

Arti Sebuah Keluarga (1)



Arti Sebuah Keluarga

“Jangan biarkan mereka ikut merasakan kerasnya usahamu, jangan biarkan mereka kasihan terhadapmu. 
Just do it. Make Them belive that you can.”


          Keluarga seharusnya menjadi tempat kedua, tempat yang nyaman untukku kembali. Tetapi seringkali peran keluarga hilang dari hidupku. Dan perlu aku tegaskan, hidup tak selalu seindah kisah ftv. Menjadi anak tunggal, ditinggali banyak kekayaan ataupun menjadi anak tunggal, merasakan 100% kasih sayang dari orangtuanya. Aku tidak merasakan keduanya. Aku tidak mempunyai saudara, orangtuaku sibuk bekerja, dan materi juga biasa-biasa saja, malah aku sendiri yang harus mandiri dengan urusan-urusanku.
          Suatu hari aku benar-benar merasakan saat di mana aku harus berjuang sendiri. Umur 13 tahun, benar-benar menjadi umur yang labil bagiku. Merasakan perubahan di mana ‘sedih’ bukan lagi ketika aku bingung ingin memilih crayon warna apa. Namun sedih remaja yang sebenarnya, tentang jatuh bangun cinta, urusan sekolah, membagi waktu, sampai mencari Tuhan. Aku merasa aku berjuang sendiri. Aku akan menjelaskan bagaimana orangtuaku menolak mimpi-mimpiku.
          Pertama, sejak tahun 2012, sejak pertama kali aku merasakan jatuh cinta dan terluka. Aku mulai menyukai dunia menulis. Awalnya aku hanya menyusun kata-per kata hingga menjadi bait-bait yang bisa mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya. Hingga sahabat-sahabatku menyadarkan bahwa itu adalah 1 dari sekian talentaku yang belum terasah. “Aku pingin jadi penulis.”, kataku singkat kepada orangtuaku. Dengan muka penuh semangat ternyata kata-kataku dibalas dengan jawaban yang tidak mengenakkan. “Kamu itu belajar, jangan nulis yang gak penting-penting.”. Memang pada waktu itu aku sedang persiapan menghadapi Olimpiade namun aku merasa aku juga perlu hiburan, duniaku tidak melulu berkutat dengan buku. Toh sukses juga tidak harus karena matematika dan ipa.
          Kedua dari kelas 6 SD, aku suka mendengarkan suara orang-orang dari radio. Mulai dari menyukai jenis acara hingga menyukai pembawaan penyiarnya yang agak kebanci-bancian hahaha. But it sounds funny. Aku bilang, “Aku mau jadi penyiar.”. Ternyata keinginanku masih belum seirama dengan keinginan kedua orangtuaku. “Penyiar gajinya lo cuman berapa.”, kata mereka dengan bahasa suroboyo-an. Aku merasa pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Dan bekerja tidak harus menuntut kekayaan materi namun juga kepuasan batin. Aku juga  menyukai dunia MC, kalau MC orangtuaku setuju-setuju saja. Tapi aku lebih tertarik untuk menjadi penyiar. Alasannya sangat sederhana, karena penyiar hanya didengar suaranya saja. Berbeda dengan MC yang juga menuntut fisik yang sempurna hahaha.
          Terakhir, aku memang tertarik dengan dunia magis. Tetapi itu dulu, dulu sekali. Yah seorang remaja memang memiliki keinginan tahu yang besar, terutama aku yang memiliki ketertarikan sendiri di dunia mistis. Aku jadi ingin mengetahui hal-hal itu lebih secara ilmu. “I want to be a physicologist.”, dan ternyata orangtuaku masih menyamaratakan psikolog dengan ‘dukun’. Hmmm memang masih ada hubungannya karena memelajari kepribadian sesorang, hal-hal di bawah alam sadar, dan mungkin sedikit menyampuri hal-hal yang magis. Tapi sebenarnya berbeda jauh. Aku ingin menjadi psikolog, karena aku adalah orang yang paling senang ketika tahu kalau sahabatku sedang sedih. Bagaimana bisa? Tenang saja aku  bukan orang yang bisa tertawa di atas penderitaan kalian, tapi aku hanya senang. Aku senang mendengarkan curhatan sahabat-sahabatku, aku senang memahami masalah mereka, dan aku senang menemani mereka saat mereka bergumul dengan masalahnya. Aku senang duduk cantik sambil mendengarkan keluh kesah mereka, rasanya itu sebuah kepercayaan lebih ketika mereka mau membagi kisahnya padaku. Dan dari situlah muncul ketertarikkanku untuk menjadi psikolog. Ya, psikolog, bukan dukun. Mungkin suatu saat aku juga tidak cukup untuk menjadi psikolog, aku ingin menjadi motivator. Karena belajar tidak melulu soal ujian dan remidi. Namun belajar berproses seumur hidup, termasuk belajar dari pengalaman kalian selama ini.
          Yang muncul di dalam pikiranku adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan mereka kepadaku. Bagaimana mengatakan bahwa ‘aku mampu’, bukan mengatakan dengan kata-kata namun dengan sebuah aksi. Untungnya, Tuhan mengirimkanku malaikat-malaikat yang memang tak perlu sayap. Malaikat-malaikat yang selalu ada untuk memberiku semangat dari belakang. Mulai dari semangat lewat teguran, lewat pelukkan, sampai-sampai lewat teriakkan selayaknya tim pemandu sorak yang siap menyorakki ku ketika aku sendiri bergumul dengan masalahku. Dan aku sangat bersyukur pada umurku yang masih dikatakan ‘remaja labil’ aku sudah mempunyai quality time sendiri dengan Tuhan. Aku mulai tahu bahwa Tuhan selalu berada di situ menungguku kembali dengan kasih yang sama dari dulu hingga masa kini. Aku mulai berjuang mengembalikan kepeercayaan orangtuaku. Ya, tidak semudah itu memang. Sometimes things don’t go the way we want. Aku jatuh, tapi aku harus bangun lagi. Aku tidak mau orangtuaku melihat aku terisak-isak karena aku jatuh, aku tidak mau mereka melihat usahaku. Aku hanya ingin mereka merasakan kebahagiaanku nanti ketika aku sudah berhasil dengan usahaku. Aku tidak mau terlihat lemah di mata orangtuaku. Aku bisa. Ternyata benar, usahaku membuahkan hasil. Mungkin prestasinya masih level ‘kacangan’, tapi benar orangtuaku sudah mulai percaya padaku.
          Sekarang mereka mendukung apapun yang menjadi ketertarikkanku. Tentunya, selama aku masih pandai mengatur waktu. Hubunganku juga sudah mulai pulih, sedikit demi sedikit kami sudah mulai sama-sama terbuka. Ya sedikit, karena selebihnya aku memberi kesempatan untuk waktu yang mengubahnya. Mereka mulai ikut ingin tahu ketika aku berkata kalau suatu hari nanti aku ingin menerbitkan sebuah buku, mereka ikut mendukung ketika aku mulai mencoba dunia public speaking, dan memberi lampu hijau  ketika aku ingin memilih psikolog menjadi jurusanku nanti.